Sia-sia kah?

Sumber
“Selalu ada nyaman yang membuatmu bimbang. Ingin terus berada disisinya, namun ia bukan milikmu. Ingin menjauhkan dirimu darinya, namun apa daya, hati tak mampu melakukannya.”

Aku pernah benar mencintaimu. Tak ada tepinya. Tak ada asalnya. Mengherankan memang, tapi aku suka.

Banyak hal datang dan pergi. Salah lalu mengampuni.
Tertawa lalu menggigit pedih sendiri.
Banyak hal kita sudah lewati
Seringkali aku berkata pada diriku sendiri
Lebih baik aku akhiri
Daripada kenyamanan ini menenggelamkan diriku sendiri
Sebelum tanganku terlanjur menggenggam erat dan tak ingin melepasnya lebih baik aku pergi walau masih ada rasa di dalam hati yang belum sempat aku sampaikan.

Hari dimana aku menyadari benar benar menyayanginya, adalah hari dimana kepalaku seperti dihantam dengan palu secara bertubi tubi.

Aku takut kehilangan seseorang yang belum menjadi milikku
Aku takut kehilangan perhatian perhatian kecilnya dan juga kata kata sederhananya yang membuatku semangat menjalani hari.

Namun aku bisa apa? Merebut hatinya dari tangan orang lain, sungguh perbuatan yang tidak pernah terlintas dalam benakku, sekalipun perasaan ini sudah dalam untuknya.

Aku bisa apa? Menunggu perasaan ini terbalas? sedangkan aku sendiri tidak pernah menyuratkannya. Satu yang selalu membuatku bingung dengan keadaan ini, jika ia milik orang lain, mengapa ia tak pernah membuat jarak sedikitpun denganku? Mengapa ia selalu bisa membuatku yakin, kalau ia juga mempunyai perasaan yang sama untukku?

Hmm… dan aku benci pertanyaan pertanyaanku tersebut. Pertanyaan itu hanya membuatku terlalu berharap, tanpa tahu bagaimana kenyataannya.

Anda saja dia bisa menoleh ke arah lain, arahku lebih tepatnya. Ia akan tahu, ada aku disini yang sudah menyayanginya walau tak pernah sekalipun ia lihat.

Ada aku yang bersedia menunggu, meski bukan aku dalam pengejarannya.
Terkadang aku lelah, tapi hadirnya cukup menguatkan.
Senyumnya berharga untukku
Namun sayang, tawanya yang riang itu bukan milikku.

Saat itu lah yang membuatku benci, ketika aku sadar aku menaruh harapan yang begitu besar di dalam kemungkinan yang sangat kecil.

Dia bukan milikku, namun aku begitu ingin memeluknya. Dia bukan untukku, namun aku begitu ingin memilikinya. Dia begitu indah dimataku. Dia begitu banyak mencuri perhatianku. Namun dia tetaplah dia. Sebatas angan yang begitu sulit aku gapai, sebatas angin yang begitu cepat menghempaskanku.

Apa aku hebat? bisa mendapatkan hatinya, padahal ia bukan milikku? Entah harus bahagia atau kecewa dengan diriku sendiri. Sebisa mungkin aku selalu menolak perasaan ini, menanamkan dalam benakku jika ini semua salah. Tapi hati selalu saja membenarkan. Logika memintaku untuk tidak memperjuangkannya, namun hati begitu ingin memilikinya.

Pagi hari aku membuka mata. Masih dengan keadaan yang sama, dimana aku menahan perasaan ini yang begitu kehilangannya. Semakin aku tahan, semakin sakit yang aku rasa. Hingga aku memutuskan untuk mencarinya dan mengungkapkan semua kalau aku juga memiliki rasa yang sama. Aku menyayanginya.

Terkadang ada sesuatu yang tidak masuk logika. Namun karena hati, kamu akan menganggapnya itu cinta.

Sampai saat ini, cintaku padamu belum juga kenal kata menyerah. Meski tak sedikit guncangan datang karena harapan-harapan yang sudah dengan rapih kupendam kau permainkan perlahan. Aku tak menyerah. Aku tak mau kalah oleh sakitku sendiri.

Aku hanya mau kamu. Hanya mau seperti waktu kita pertama bertemu. Namun apalah daya seorang manusia? Aku tak bisa apa-apa, bila harapanku diguncang oleh yang lebih punya kepentingan. Yang memegang takdir satu dengan lainnya. Yang menyatukanmu, dengan bukan seorang aku.

Sekarang aku mengerti dengan pasti aku bukan pejuang yang kalah. Aku adalah manusia yang sadar diri. Meski tidak sedang ingin berhenti.

Dan aku sadar bahwa;

Akan ada di beberapa bagian, apa yang kita perjuangkan tidak bisa kita dapatkan.
Akan ada di beberapa kondisi, ekspetasi kita terhadap sesuatu terlalu tinggi dan ketika realitanya berbanding terbalik. Kita jatuh sejatuh-jatuhnya.
Mungkin disitulah maksud letak “sewajarnya” “secukupnya” “tidak berlebihan”.
“Siapkan ruang untuk berandai, sisakan ruang bila tak tergapai.”


Comments

Popular posts from this blog

Adek Sayang Kakak

Walau Kamu Pernah Pacaran

Cinta Lebih Nyata Dari Kata Cinta Itu Sendiri