Tuhan Menunda Move On
Skenario film di dunia ini hampir sama semua, dan mayoritas dari kita sangat senang untuk dibohongi meskipun kita sudah tahu bahwa kita akan dibohongi. Tapi, bukankah manusia memang selalu senang untuk mendengarkan sesuatu yang ingin mereka dengar ?
Apalagi sebuah kisah romantis di suatu film yang menjual seorang tokoh protagonis dan seorang antagonis, cerita-cerita itu sungguh membosankan. Lihat saja, apabila kisah itu hitam-putih, titik klimaks itu hanya akan berputar pada dua kemungkinan saja. Sedih atau bahagia.
Manusia, hamba Tuhan yang pelupa.
Namun skenario Tuhan memang selalu asyik untuk dibahas, kita tidak pernah tahu apakah besok kita masih terbangun dan bisa merokok pagi-pagi lagi di atas kloset kamar mandi disaat buang air besar. Tuhan Yang Maha Mengingatkan hambanya yang suka lupa, ketika sedang asik-asiknya dimabuk asmara, Tuhan Yang Maha Pencemburu telah merencanakan sesuatu yang akhirnya membuat kita seakan merana dan disiksa, dan akhirnya kepada Tuhan kita mengadu dan kembali.
Sempurna. Dan itu kisah tentang kehidupan hambaNya yang normal.
Dari sekian hamba yang normal itu, pasti ada saja pemberontak yang selalu berusaha menembus kodrat manusia.
“Oh Tuhan, aku ingin menjadi seorang sufi. Maka abadikan cintaku padanya seperti aku mengabadikan cintaku padaMu.” – begitu ucap seorang pemuda yang sedari tadi terlihat murung di sudut kedai kopi sedari aku datang sore tadi hingga hari mulai gelap.
Manusia memang suka berdoa, di mana saja, kapan saja. Termasuk di kedai kopi, tempat pembuangan limbah, maupun sarang prostitusi.
Pemuda itu aku lihat dari tadi memegang sebuah tiket pulang ke kampungnya, namun sudah dirobeknya menjadi dua bagian. Dan satu sisinya terlihat basah warna kecoklatan, sepertinya untuk mengaduk gula karena kopi yang dipesan terlalu pahit dia rasa.
“Aku tidak jadi pulang, buat apa aku menjemput sebuah cerita yang sudah berakhir.” Dia sedikit berteriak menghadap cermin, sepertinya mengutuk pantulan dirinya sendiri.
Lama-lama aku kasihan juga, dia sudah menjadi pusat perhatian seluruh pelanggan kedai kopi dari tadi sore, pelayan pun juga tidak ada yang berani untuk mengusir dia.
“Aku lebih baik pulang saat dirimu mati. Orang-orang sudah tidak ada lagi yang menginginkanmu, hanya akulah yang sudi untuk memelukmu dan membawa ke rumah impian kita yang sudah berhasil aku bangun di pesisir pantai favorit kita.”
Lalu orang itu berzikir menyebut nama Tuhannya, sembari kudengar ada sesenggukan kecil meracau sebuah nama, mungkin nama kekasihnya.
"Jika suatu saat kau mendengar kabar bahwa aku telah jatuh cinta lagi, percayalah bahwa untuk melaluinya, aku harus melalui puluhan malam berharap kau akan kembali, dan puluhan kali kecewa karena ternyata kau tak kunjung ada."
Ya, Tuhan menunda move on agar hambaNya menjadi sufi.
Cerita manusia memang mengada-ada saja, hanya cerita Tuhan yang sempurna. Kebanyakan sufi yang kita temui memang kita sangka sebagai orang gila, namun juga kita tidak bisa berbuat apa-apa apabila dia merasa berada dalam titik terdekat dengan Tuhannya.
Hasbyrachm|@bungaberdebu

Comments
Post a Comment