"Kak, bersabarlah… Sepahit apapun getir kehidupan yang kau rasa, sesakit apapun luka yang kau derita, sesusah apapun jalan yang kau telusuri. Tegarlah, seperti karang di lautan yang tak tergoyahkan riak gelombang." Kak, bersabarlah… Aku disini, disampingmu kan menghapus air matamu dan akupun dengan kipas ditangan ini kan menemanimu mengusir sepimu. Kesedihan bukanlah gundukan tanah yang akan mengubur hatimu. Tapi, perkasa langit yang akan menjunjung hatimu. Kak, bersabarlah… Tak perlu kakak risau, adek disisi mu..." Hasbyrachm
Non, jangan lagi merasa risau dan malu atas apa yang terjadi pada masa lalumu. Sebab Mas menerima kamu dengan kondisimu hari ini, yang pernah terjadi adalah kisah lama. Maka hari ini mari membangun kisah yang baru. Non, walaupun kamu pernah berpacaran sekalipun. Mas sudah tidak lagi peduli, karena Mas tau kamu sudah lama berubah dan menyesali semua yang pernah terjadi di masa lalumu. Tuhan sangat suka dengan hamba yang berubah, maka tidak ada alasan bagi Mas untuk kecewa dengan masa lalu yang sudah lama kamu kubur dalam dalam. Non, kamu punya kesalahan di masa lalu. Aku pun sama. Walau mungkin kesalahan kita berbeda. Bahkan sampai hari ini dan di hari hari yang akan datang Non, kita pasti akan terus terpeleset untuk melakukan kesalahan. Itu bukti bahwa aku dan kamu adalah manusia biasa. Jauh dari kata sempurna. Maka Non, jangan risau dengan masa lalu. Sebab hidup kita tergantung dengan bagaimana kita kelak mengakhirinya. Mas janji, akan berusaha membantumu menjadi pribadi yang lebih ba...
Saya sering bertanya-tanya. apakah ibu mencintai ayah? apakah ayah mencintai ibu? ataukah mereka sekadar saling berkompromi hidup bersama demi menjaga kami anak-anaknya. sebesar apakah cinta dibutuhkan untuk membuat dua anak manusia bisa bertahan hingga usia tua? Pernah saya mendapati ibu menangis di dalam kamar sendirian. air matanya jatuh dengan napas tersengal sesenggukan. saya bertanya kenapa? ibu bilang ayah membuatnya luka. sudah berapa kali? saya tanya lagi. ibu bilang berkali-kali. tapi esoknya, ibu memasak makanan kesukaan ayah. Di lain waktu, saya melihat ayah sedang merokok dengan mata merah dan dada yang naik turun menahan marah. di belakang ibu marah-marah sambil berteriak-teriak. saya bertanya kenapa? ayah bilang ibu membuatnya luka. sudah berapa kali? saya tanya lagi. ayah bilang berkali-kali. Namun, keesokan harinya ayah bangun lebih dulu dari matahari. diambilnya sejadah dan berangkat ke mushola di depan rumah. saya mengikuti di belakang sambil terantuk mengantuk....
Comments
Post a Comment