Tak Perlu Minuman Manis
Seseorang mulai sadar ia sedang jatuh cinta.
Ketika rindu itu selalu muncul berulang-ulang setiap pukul sebelas malam, menyusahkan jelang-jelang tidur, diawali pertanyaan-pertanyaan sederhana hingga yang paling tidak masuk akal.
Dan ada pula sebagian orang yang sudah sangat lelah dan hampir menyerah karena merasa seperti kehabisan jalan keluar.
Tapi nyatanya, mereka mampu terus berlari sebab masih meyakini kekuatan-kekuatan doa.
Sesekali memang harus berani melawan ketidakmampuan, untuk sekadar memastikan kita ini benar tidak mampu atau hanya malas.
Bukan bermaksud apa, kau pasti akan paham setelah kalimat ini__Kau pasti akan senyum-senyum sendiri jika tahu apa yang saat ini kupikirkan. Ingatanku sedang memutar ulang kekonyolan-kekonyolan kita.
Aku ; "Kamu harus janji untuk belajar manja. Karena dewasa dan mandirimu itu masih ambigu membuat hidupku tak tenang dan sakit kepala".
Non Da ; "Terus aku harus apa?"
Aku ; "Mulai sekarang cukup belajar jadi manja. Diem. Titik".
Tak perlu dipilah-pilah.
Bahagia itu banyak bentuknya.
Banyak sekali.
Agar kita bisa tetap saling mencintai, aku punya permohonan sederhana. Tak perlu sekuat tenaga. Semampumu saja, asal bisa seterusnya.
Bagaimana?
Non Da ; "Kamu sudah yakin tah sama aku?, apa tidak ingin mengenalku lebih dalam lagi?.
Aku ; "Simpan saja masa lalumu aku pun begitu, kini kita bersama hari ini dan seterusnya. Aku wajib membuatmu bahagia dan itu memang tugasku. Ingat, bahagia itu kita yang ciptain bukan orang utan".
Kalau berlarinya bergandengan, bahagia itu gampang dijangkau dan lebih cepat sampai__jika bersedia, akan kuajak kau membuktikan kalau barusan itu bukan kalimat mustahil.
Tak perlu kaukatakan berulang kali. Sebab rasa kita sama. Aku pun juga bahagia memilikimu.
Kita harus selalu berusaha menjaga satu sama lain baik-baik. Sebab sekali tersakiti, rasa kecewa akan lebih mudah mengajak kita untuk pergi.
Bersyukur saja dulu.
Ulangi terus menerus.
Sampai kita lupa, bahkan tak punya waktu untuk bersedih.
Lalu jika kau pernah berfikir aku tak mampu mencintai seperti Ayahmu, maka biarkan aku membantu ayahmu menjaga anaknya baik-baik saja. Karena tak perlu minuman manis, aku hanya butuh menghilangkan rasa haus.
Ini sebatas tentang apa yang telah kau berikan.
Terima kasih.
Ketika rindu itu selalu muncul berulang-ulang setiap pukul sebelas malam, menyusahkan jelang-jelang tidur, diawali pertanyaan-pertanyaan sederhana hingga yang paling tidak masuk akal.
Dan ada pula sebagian orang yang sudah sangat lelah dan hampir menyerah karena merasa seperti kehabisan jalan keluar.
Tapi nyatanya, mereka mampu terus berlari sebab masih meyakini kekuatan-kekuatan doa.
Sesekali memang harus berani melawan ketidakmampuan, untuk sekadar memastikan kita ini benar tidak mampu atau hanya malas.
Bukan bermaksud apa, kau pasti akan paham setelah kalimat ini__Kau pasti akan senyum-senyum sendiri jika tahu apa yang saat ini kupikirkan. Ingatanku sedang memutar ulang kekonyolan-kekonyolan kita.
Aku ; "Kamu harus janji untuk belajar manja. Karena dewasa dan mandirimu itu masih ambigu membuat hidupku tak tenang dan sakit kepala".
Non Da ; "Terus aku harus apa?"
Aku ; "Mulai sekarang cukup belajar jadi manja. Diem. Titik".
Tak perlu dipilah-pilah.
Bahagia itu banyak bentuknya.
Banyak sekali.
Agar kita bisa tetap saling mencintai, aku punya permohonan sederhana. Tak perlu sekuat tenaga. Semampumu saja, asal bisa seterusnya.
Bagaimana?
Non Da ; "Kamu sudah yakin tah sama aku?, apa tidak ingin mengenalku lebih dalam lagi?.
Aku ; "Simpan saja masa lalumu aku pun begitu, kini kita bersama hari ini dan seterusnya. Aku wajib membuatmu bahagia dan itu memang tugasku. Ingat, bahagia itu kita yang ciptain bukan orang utan".
Kalau berlarinya bergandengan, bahagia itu gampang dijangkau dan lebih cepat sampai__jika bersedia, akan kuajak kau membuktikan kalau barusan itu bukan kalimat mustahil.
Tak perlu kaukatakan berulang kali. Sebab rasa kita sama. Aku pun juga bahagia memilikimu.
Kita harus selalu berusaha menjaga satu sama lain baik-baik. Sebab sekali tersakiti, rasa kecewa akan lebih mudah mengajak kita untuk pergi.
Bersyukur saja dulu.
Ulangi terus menerus.
Sampai kita lupa, bahkan tak punya waktu untuk bersedih.
Lalu jika kau pernah berfikir aku tak mampu mencintai seperti Ayahmu, maka biarkan aku membantu ayahmu menjaga anaknya baik-baik saja. Karena tak perlu minuman manis, aku hanya butuh menghilangkan rasa haus.
Ini sebatas tentang apa yang telah kau berikan.
Terima kasih.
Hasbyrachm


Comments
Post a Comment