Pujaan

  Apakah yang dipikirku setiap hari ini adalah wajahmu ?
yang berputar-putar menghangatkan keseharianku,
yang berlari-lari menyamarkan realitaku.
Kuanggap itu kamu, tak akan kubilang nama lain.
Karna kau realita yang membuat imajiku dan imajiku yang menjadi realita.
Akankah kukecup bila kudapati kau nanti ?
kurasa tidak, pikiranku sempit bila melakukannya
tawa dan senyummu yang kucari dahulu.
Kemudian peluk erat yang mengusir ribut sekitar
kita merekah diantara mereka yang belum mekar.
Dan kepada nyawa-nyawa yang punya lagak manis
yang mencoba mengambil nadimu dari sekitaran tanganku.
Kuharap mereka lemah dan menjadi lelah
dan tak kuasa untuk mengejarmu lagi.
Maaf, egoku besar bila memperebutkan dirimu.
Lalu kujadikan kau sebagai satu buah takdir,
yang kuraih mati-matian meski ditengah gemuruh,
yang kujaga mati-matian meski ditengah gelombang.
Langit terang untuk malam-malam kantukku,
laut tenang untuk pagi-pagi pulasku.
Lalu kunamakan kau sebagai seorang pujaan.
Yang sedang terhantui dengan cerita masa lalu,
yang akan kuhapuskan dengan cerita masa depan,
yang sedang menunggu datangnya sebuah kisah,
yang akan kujemput bersama kisah hebat.
Aku terbangun dari mimpi-mimpi panjang saat aku melihat senyummu yang memanjang.
Dia rekah, bahkan buatku mekar dari kantuk tak teratur.
Sungguh tidak ada tempat lain lagi selain matamu yang kutelusuri begitu dalam,
lautan pun tak kuselami hingga dalamnya matamu yang hitam kecoklatan itu.
Dan tiada kota yang menarik selain pemikiran-pemikiranmu yang luas.
Kota surga ini membesarkanmu menjadi begitu luas dalam berpikir, kesenjangan-kesenjangan dahulu hanya jadi ketenangan-ketenangan melulu dalam tiap bahasan kita.
Juga bagaimana rambutmu adalah jantung kehidupan.
Hutan lindung yang belum terjamah pembabat liar, lantas membawaku ingin menulusuri lebih rimba lagi.
Kau dengan segala ragamnya adalah pemberian yang terbaik dalam pikirku saat ini, dengan hebatnya kau buatku menjadikanmu semesta dalam lingkaran nadiku.
Karena waktu adalah satuan.
Dan aku juga kau bodoh dalam berhitung,
dan kau juga aku juara dalam menghitung,
dan sampai larut perdebatan ini.
Tak melahirkan yang menang,
tak melahirkan yang kalah.
Canda yang receh,
Namun tawa yang meledak-ledak.
Dan puisi ini khusus diperuntukkan untukmu, yang beberapa hari ini membius dalam roman indah tak ada pangkal ujung.
Puisi ini adalah aku, yang memujimu bahkan sebelum kau mengenalku dengan jelas.
Dan hingga kau mengenalku nantinya, puisi-puisi ini akan terus bertambah begitu juga rasaku yang terus bertumbuh.


Untukmu yang teramat sangat terkasih, puisi ini mencintaimu.



Hasbyrachm|@bungaberdebu

Comments

Popular posts from this blog

Adek Sayang Kakak

Walau Kamu Pernah Pacaran

Cinta Lebih Nyata Dari Kata Cinta Itu Sendiri