Penyendiri

A man Sleepy Insomniac


Aku lelaki penyendiri dan tinggal diduniaku sendiri. Tapi, aku bukan anak yang banyak mempunyai problematika kehidupan dan bukan pula aku anak bandel yang selalu bikin masalah dimanapun aku berada. Aku seperti lelaki biasanya  punya sahabat, bahkan teman sekalipun. Aku bukan anak orang kaya tetapi kaya kasih. Dan aku, anak laki-laki yang sangat tidak suka keramain. Itulah aku “Lelaki Penyendiri namun Memiliki Rindu Yang Sama” yang hobi berdiam diri di depan pemandangan alam salah satunya pantai.
Kenapa aku begini? Yang jelas bukan karena banyak faktor, banyak alasan, dan banyak cerita, bukan sama sekali....

Si penyendiri akan memulai hari ini seperti biasanya.
Hari ini ditempat kerja sama seperti biasanya dan seperti biasanya pula aku sudah duduk dikursi depan kantor menunggu scedule maintenance kantor. Aku duduk sendiri. Ada teman yang menghampiri duduk denganku. Aku tidak tau apa yang telah dipikirkan si Panjul sehingga dia ingin menghiburku dengan lelucon dan gosipnya yang setiap berbeda. Aku rasa dia punya alasan untuk mau menghiburku. Tapi kenyataannya, aku selalu ingin telingaku sunyi. Kadang ku ambil peduli karena kupikir, tanpa dia juga pasti aku bisa menjalani rutinitas ini sampai tamat. Kulihat Kordinatorku datang dengan roda empatnya. Pasti dulu Kordinatorku tidak penyendiri seperti aku, makanya dia bisa sukses. Mungkin aku terlalu pesimis. Diam-diam aku selalu mengagumi kordinatorku yang buntal. Tapi sepertinya dia selalu menganggap aku seperti karyawan yang lainnya yang terus hadir ditempat kerja dengan waktu tertib. Nilai maintenanceku selalu tinggi. Entah darimana aku bisa dapatkan nilai-nilai baikku pada setiap bulan mungkin karena aku rajin terhadap trouble pada siteku yang ditentukan orang kantor padahal suka berdiam diri dalam selter tower dengan waktu lamu tak luput ditemani gadget dan sepi.

“tik tik tik tik tik tik”

Detik jam tangan menuju waktu pulang kerja yang selalu kunanti. Aku berjalan keluar kantor selesai absen hasil maintenance sambil menghampiri roda duaku. Kudengar celotehan orang-orang yang aku lewati. Mereka melihatku aneh dan seperti ku dengar lagi mereka berkata “lihat tuh si kurus Penyendiri”. Mereka orang-orang yang baik karena hanya selalu berkata dan tidak tahu aku yang sebenarnya.
Surgaku sudah kutemukan. Dibelakang pohon kelapa yang berhadapan dengan sawah legah, aku duduk dan mulai menyendiri. Aku nikmati udara segar itu dalam teduhnya pepohonan sekitar. Duniaku hidup kembali. Jika aku tamat dari hidup ini, aku pasti akan merindukan tempat ini. Terkadang aku juga bingung, kenapa aku memilih tempat sekumuh ini??
Aku sangat yakin, aku pasti mampu untuk masuk Taman-Taman yang berada dikota ini yang jauh lebih baik dari tempat ini. Kudengar samar Qurro' tanda waktu Adzan Maghrib hampir tiba. Tapi aku enggan kembali ke rumah dan masih harus ingin tetap disini. Sekarang senja di ufuk barat mulai tidak terlihat suasana mulai petang dan ini yang kubenci. Aku benci ditinggal senja karena selalu menjadikan aku sebagai manusia yang istimewa. Kuraba saku hem kotak-kotakku. Sepertinya aku kehabisan rokok yang biasanya melengkapi suasana si dikala menyendiri. Ya sudahlah, Aku terus diam dalam keheningan. Dan tertidur untuk beberapa saat. Tak terasa, ketika aku bangun. Hari  sudah petang dan tak ada burung satupun berterbangan. Adzan mulai di komandankan disetiap speaker sudut desa. Ternyata aku ketiduran selama duapuluh menit. Aku balik kerumah untuk absen muka pada orang tua selebihnya membersihkan diri.
Kuambil gadjet dan kamera untuk berangkat ke rumahku yang tidak jauh berbeda dari surga.

Dari luar orang pasti sudah tidak terpesona dengan rumahku yang bukan seperti istana. Tapi mungkin orang-orang akan menginginkan dalamnya karena sering terjadi obrolan keluarga. Aku mulai memasuki ruang tamu. Seperti biasanya, aku sudah mendengar Takbir dari khusyuk Sholatnya.
Orang tuaku memang sering mengobrol. Tema dari obrolan mereka menentu, terkadang kudengar tentang persoalan sawah, dagangan dan tentang nominal penghasilan hari ini, bahkan terkadang mereka saling bercumbu kepribadian masing-masing. Sungguh menarik.
Aku menuju kamar dan kulihat Kakakku keluar dari kamarnya bersama gadget yang dia pegang. Kakak seperti biasanya tersenyum sipu padaku namun kulihat dia seperti kelelahan atas kerjanya tapi dianya menyembunyikannya, namanya Diana dia kakak satu-satunya yang sangat tegar. Aku membalas senyuman itu karena aku tau apa maksudnya. Aku berjalan lurus kekamarku namun sebelumnya aku melewati kamar kakakku yang sangat kukagumi. Kulihat pintunya terbuka. Kulirik dan sangat rapi tatanya, itu sebaliknya di kamarku. Dan dengan puluhan boneka. Dia kakakku yang paling sempurna.
Dia sangat berbeda. Dia kuanggap segalanya. Aku duduk disebelahnya sambil melihat wajah dia yang begitu serius dengan gadget itu. Sikapnya yang dewasa membuatku sangat mengagumi dan ingin seperti dirinya. Cuman dia orang satu-satunya motivasi dirumah ini.

“Bagaimana dengan kerjamu?? Kenapa baru pulang??” dia bertanya disela-sela mengetik keyboard gadget

“ Hari ini terasa biasa saja karena aku belum ada trouble” jawabku sambil mengambil gadgetku dimeja.

Aku menerawang langit-langit ruang tamu dan berkata

“aku lelah kak atas semua rutinitas dan kehidupan ini”

“tapi setidaknya kamu masih punya keluarga dek…! Jangan mengeluh begitu, Tuhan tidak suka” jawabnya seperti sediakala.

Kelurga ini terlihat sangat berkeluarga. Keluarga ini tidak berantakan. Tanpa aku harus memperbaikinya. Aku menuju kekamarku dan berbaring sembari bermain game kesukaan lalu aku terlelap. Dan terbangun saat ibuku menyuruhku makan malam. Makan malam juga seperti biasanya, selalu bersama, terkadang aku sendiri.

          -----------------------------------

Hari ini kerja dimulai dengan adanya trouble mendadak. Aku tidak mau mengisi scedule itu. Aku berjalan ketempat pohon kelapa itu. Sendiri aku disitu. Bertemankan alam yang terasa begitu tenang. Menyentuh aku untuk berimajinasi. Aku duduk di rerumputan itu. Kubuka tasku untuk mengambil  sebatang rokok. Kulihat ada bungkusan kado. Dan terselip surat. Kubuka surat itu. Aku benar-benar parah. Hari ulang tahunku saja aku bisa lupa. Kubuka kado itu perlahan. Ternyata sebuah buku diary yang indah. Yang dilengkapi dengan gembok agar orang tidak bisa membacanya. Aku tersenyum, karena aku tidak suka membaca.

“kenapa kamu ada disini?”Tanya suara perempuan yang sontak membuatku terkejut.

Aku menoleh kebelakang dan kulihat perempuan muda seumuran denganku tapi aku perhatikan dia tampak lebih muda tiga tahun. Mungkin dia orang baru didesa jni yang tidak tahu bahwa aku ini si penyendiri atau mungkin akunya yang tidak pernah bertemu rupanya. Aku hanya diam dan kembali melihati buku diary yang baru saja menjadi milikku.

“boleh saya duduk??” Tanya perempuan itu lagi.

Aku mengangguk. Perempuan itu pun duduk disampingku. Aku hanya memandang sekitar. Lama-lama aku risih dengan keberadaannya karena menggangu ketenanganku.

“sebaiknya kamu jangan disini, dan pulang kerumahmu”kataku singkat.

Ia tersenyum dan bertanya.

“kamu sendiri kenapa ada disini?, bukannya ini jam kerjamu”

“aku sukatempat ini” sambil berkata dalam hati kenapa dia tahu statusku?!.

“kenapa?”tanyanya lagi.

“karena aku suka sunyi”

“kena..” “bukan urunsanmu” jawabku memotong pembicaraannya.

Lagi-lagi dia tersenyum seperti ada yang lucu.

“ya jelas donk jadi urusanku…aku adalah karyawan baru, bendahara kantormu”

Hal itu sontak membuatku terkejut dan sangat-sangat terkejut. Aku memandanginya. Sepertinya aku sedang melakukan salah besar.

“kenapa??saya terlihat seperti bukan karyawan baru ya?hahaha”sambungnya lagi. Aku hanya diam dan terus memandangi buku diaryku. Menunduk. Kami saling diam. Perempuan tersebut beranjak dari tempat dudukku dan sebelumnya berkata.

“lain hari, kamu jangan bolos lagi. Oh ya, buku diarynya jangan hanya dipandangi saja, tapi tulislah sesuatu”bendahara baruku pun beranjak pergi lalu menoleh lagi “mulai sekarang kita berteman okey”

Aku memandanginya dengan tampang dingin.

Dihari ulang tahunku ini aku mendapatkan kejutan. Hari ini tidak biasa. Akan kutulis semua kisah ini untuk memulai diaryku.

Aku membuka-buka tas dan mencari pulpen. Rasanya dulu aku pernah punya pulpen. Tapi kenapa saat kucari pulpennya tidak ada. Aku sadari beberapa bulan terakhir ini aku tidak pernah mencatat.

“astaga…!!!”aku terkejut saat ada yang menggeliti pinggangku dengan suatu benda.

“hey penyendiri, kamu butuh ini kan?”katanya menyodorkan pulpen.

Dia lagi, dia lagi, dia lagi. Bendahar baru yang menyebalkan belum pergi juga. Aku diam dan tak mengambil pulpennya.

“knapa??pulpennya terlalu mahal ya untuk digunakan??saya masih punya stok pulpen ngantor kok…ini kan?”katanya sambil menunjukkan pulpen PILOT hitam.

Aku terus diam dan seolah tak ada yang bicara.

“atau kamu butuh uang ya untuk pergi ke Taman mungkin?”katanya sambil tersenyum.
Aku menatap guruku dengan pandangan yang sangat tajam. Dia melihatku sambil tersenyum.

“alis kamu tebal indah ya…pasti ibumu cantik??”

Aku beranjak dari tempat duduk. Dan langsung pergi. Kutinggalkan bendahara baruku.

        -------------------------------



13 agustus 2017

Dear diary

Aku bingung ingin berkata apa??

Ini kali pertama aku menulis diary…

Ini semua untuk menghargai kado pemberian kakakku tercinta…

Yang jelas dari hari ini,

Aku agak sedikit kesal dengan bendahara baruku, dia telah mengganggu ketenangan jiwa dibawah pohon kelapa….


-Lelaki penyendiri(Pemendam Rindu Yang Sama)-

Kututup diary itu,…

Aku berbaring ditempat tidur dan merasakan ketenangan. Dunia ini begitu unik. Tak pernah tahu apa yang akan Tuhan berikan padaku. Yang jelas aku menjalani apa yang telah Tuhan berikan.
 Continue..

Hasbyrachm@bungaberdebu


Comments

Popular posts from this blog

Adek Sayang Kakak

Walau Kamu Pernah Pacaran

Cinta Lebih Nyata Dari Kata Cinta Itu Sendiri