CINCINKU


Senja sore pun berlalu, berganti dengan gelapnya malam yang indah, suasana lirihan angin yang sedang menari, dan bunyi sound game yang menemaniku malam hari ini sepulang kerja.

Hai kau yang disana, tak usah mencemaskanku berlebihan disini, tenanglah.. aku adalah lelaki yang sudah terbiasa berteman sepi yang akan tetap selalu berjanji akan hadirnya diriku.

Mencintaimu adalah salah satu tanggung jawab bagiku. Dengan umur yang dewasa ini aku tidak bisa menganggap cinta hanya soal romansa saja, namun pada hal yang membuat kita bisa membiakkan mimpi nantinya.

Menganggapmu remeh, memang! Namun itu dulu, seiring berjalannya waktu, engkau yang paling patut dipertahankan.

Aku menyesal, yah aku menyesal atas perlakuanku padamu dulu, yang selalu membuatmu kecewa, yang membuatmu merasa terbebani. Aku tidak tahu, entah apa yang membuatku seperti itu, aku adalah anak yang baru lulus sekolah menengah atas yang masih tidak tau apa-apa. Apa itu soal cinta?!.

Pacaran pasti pernah dan sangat benar-benar patah hati dikala satu tahun lalu.

Mungkin kamu nyadar, di balik perlakuanku yang tak kunjung-kunjung menyerah terhadap sifatmu, yang suka marah, dan nangis seenaknya. Tapi aku tetap bertahan mempertahankanmu. Ku tetap merayumu, membujukmu seperti anak kecil, mengalah, padahal kamu sudah tahu bahwa itu semua adalah salahmu.

“Kenapa?”

“Kenapa aku seperti itu padamu?”

Cinta ini mungkin membuat dirimu seperti orang yang akan tetap selalu menerima cobaan, meskipun kamu tau bagaimana resikonya. Melihat perjuanganmu membuatku luluh, membuatku mengerti dan menyadari bahwa saat kita ditimpa masalah dan bisa menyikapinya dengan baik justru saat itu pula kita menjadi dewasa.

Saat aku berusaha untuk mencoba menghindar darimu, justru kau malah selalu ada buatku. Saat itu pula ku tahu akan ketulusan cintamu, maafkan aku yang membuatmu sakit atas perlakuanku.

"Namun orang seperti inilah yang patut diperjuangkan dan dipertahankan hingga kapanpun."

Aku tidak gombal. Ini memang serius, aku menyesal atas tingkah lakuku dulu kepadamu. Maafkan aku.
Berubahnya diriku dengan drastis, salah satunya hanya karena kamu sebagai alasan yang menjadi penyemangat dalam hidupku.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa’’

“Apakah ini benar?”

Terserah kamu menganggap aku alay atau bagaimana, tapi aku bangga senggaknya aku bisa berguna padamu. Aku jarang sekali menujukkan sikap romantisku dengan perkataan. Tapi aku langsung menunjukkan dengan perbuatan-perbuatanku.

Semakin hari kau semakin buatku jatuh cinta. Kau adalah cinta terakhirku. Yang entah apa alasannya tapi yang pasti kau sudah hebat bisa memenangkan hati kedua orangtuaku.

Aku adalah lelaki yang sedang jungkir balik berjuang memantaskan diri untukmu.

Saat ini aku sedang sibuk memperjuangkan apa yang menjadi tujuan dari impian-impianku. Akan ada hal di mana kamu harus bisa menerima risiko atas tindakanku ini, bahkan kita sudah tidak saling bisa bertemu dan bertelepon atau sms sesering kemaren.

Tapi tak perlu kau mencemaskanku sayang, aku lelaki yang sudah terbiasa berteman sepi, yang mungkin pada kenyataanya kamu juga ingin bertemuu denganku. Kita harus bisa menyingkirkan ego kita. Keinginan itu harus kita lerai dulu. Bukan berarti kita hanya setia saling menunggu, namun aku juga berjuang disini, kamu mencari ilmu dipesantren dan aku bekerja; untuk cinta yang berkualitas nanti.

Mencemaskanmu memang salah satu hal yang selalu aku rasakan. Namun aku yakin padamu, bahwa kecemasan itu tidak akan terbuang sia-sia. Kesibukanku yang membuat kita tidak sering bertemu akan memberikan waktu luang yang banyak untukmu untuk belajar.

Yah, belajar bagaimana kita bisa memenangkan hati kedua orang tua kita. Yah kita berganti, saat kau bisa.. mengapa aku tidak bisa? Karena dalam menjalin hubungan bukan hanya kita saja yang menjalankan, namun dukungan orang lain juga perlu. Aku tahu sayang, ini masih butuh proses panjang. Tapi percayalah padaku, aku berusaha menjadi calon suami yang bisa diterima keluargamu nanti. 

"Aku percaya, kau tidak seperti dia(sebelummu) yang ujarnya kelelahan menungguku"





Sampai tiba saatnya nanti, kita di persatukan dan menjalankan kehidupan baru menjadi tidak canggung lagi.

Semoga nantinya penantian panjang kita lalui, impian harapan masa depan kita rencanakan sedari sekarang terkabul, Amin. Dan semoga kelak ini semua sudah terpenuhi, dimasa nantinya aku sudah tidak canggung lagi kepadamu sayaang, saat aku sudah sering terbiasa melihat mukamu saat bangun tidur dengan rambut yang berantakan.

Saat itulah kebahagian yang kita nanti-nantikan, aku tau dalam menjalankan hubungan ini tidak melulu kita bahagia. Bertengkar, berbeda pendapat sudah menjadi hal yang tabu bagi kita. Saat kita bak besi yang sudah bisa melebur jadi satu disitulah kita bisa menjalankan ritme hidup ini bersama. Bahkan tujuanku dari sini adalah aku bisa membahagiakanmu duhai calon istriku.

Ketika aku sudah memutuskan untuk bersanding denganmu, disitu kamu harus percaya bahwa aku memilihmu karena aku nyaman denganmu. Semoga Kau Kan Tetap Menjadi Cinta Terakhirku,

Semoga kau bisa memahami apa yang aku tuliskan untukmu ini. “Tunanganku”.

Hasbyrachm

Comments

Popular posts from this blog

Adek Sayang Kakak

Walau Kamu Pernah Pacaran

Cinta Lebih Nyata Dari Kata Cinta Itu Sendiri