Ku Menunggu(nya)
Mulut tertutup seolah berperekat, Lembayung senja seolah membuat kita tak bersekat, Pandai sekali rupanya, Tuan bila sedang bependapat, Ku kagami kau Tuan hingga ku beri peringkat.
Rasanya, Kita sudah terlalu jauh melangkah dengan kesadaran hingga timbul pertanyaan “Bagaimana selanjutnya?” “Bagaimana setelah ini? “, Hingga apabila diingat Tuan, Kita ini hanyalah dua onggok daging bertulang yang saling jatuh cinta.
Tidak kah kau ingat, Tuan?
Bagaimana bulan seolah tersenyum melihat kita berjalan kaki disaat semua orang memilih menaiki kendaraan.
Bagaimana pekatnya kopi yang kita minum itu tidak sepahit perjalanan kita.
Bagaimana debur ombak yang menenangkan itu seolah menggambarkan keberadaanmu yang selalu menenangkan.
Tuan, Aku tidak tahu kenapa hati ini seolah terperangkap oleh hati Tuan. Aku seolah terpenjara dan tidak ada jalan keluar, Aku tidak punya pilihan lain selain mencintai kau, Tuan.
Aku sadar betul, Aku begitu kecil jika dibandingkan semesta. Aku begitu lemah jika dibandingkan dengan wanita-wanita lain yang mungki memujamu. Aku begitu sederhana tak secantik wanita disekitarmu.
Tapi, Kau membuatku untuk terlihat besar dan berani, Menguatkan aku, dan membiarkan kesederhanaanku.
“Kau mau apa?” Kau selalu bertanya demikian seolah Aku adalah gadis yang banyak minta.
“Aku mau Jus Wortel di tambah jeruk”, “Aku mau minum kopi di kedai itu”, “Aku mau ice cream”, “Aku mau makan bakso disana” , “Aku mau jalan-jalan” , “Aku mau dengerin suara ombak.”, “Aku mau ke museum. “,” Aku mau naik gunung. “
Tanpa bahasa lain kau berkata ” Yuk!” tiga huruf dalam satu kata yang membuat aku selalu merasa bahwa mimpi-mimpiku terasa begitu dekat ketika bersamamu Tuan.
Terima kasih telah membuat segalanya mudah, Tuhan. Terima kasih telah kau berikan Tuan itu padaku, Aku mencintainya dengan segala apapun yang ada di dirinya.

Comments
Post a Comment